Diduga Dipukul Oleh Oknum Guru Honor Calon PPPK Paruh Waktu, Siswa SMPN 3 Somambawa Kritis Hingga Meninggal Dunia

Nias Selatan — Seorang siswa SMP Negeri 3 Somambawa, Kecamatan Somambawa, Kabupaten Nias Selatan, meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Thomson Gunungsitoli. Korban, Bruno Vinsensius Telaumbanua, menghembuskan napas terakhir pada Minggu, 30 November 2025.

Menurut pihak keluarga, kondisi kritis yang dialami Bruno diduga dipicu pemukulan di bagian belakang kepala oleh seorang oknum guru honorer berinisial EN, calon P3K paruh waktu tahun 2025. Peristiwa dugaan kekerasan itu disebut terjadi pada Kamis, 27 November 2025.

Namun, dugaan tersebut masih menunggu klarifikasi resmi dari pihak sekolah, Dinas Pendidikan, maupun pihak berwenang lainnya.

Reaksi Keras Warga dan Pemerhati Pendidikan

Kematian Bruno segera memicu gelombang kekhawatiran warga dan pemerhati pendidikan di Nias Selatan. Mereka mendesak Pemerintah Kabupaten Nias Selatan serta Dinas Pendidikan untuk mengambil tindakan tegas, termasuk kemungkinan pemecatan terhadap oknum terduga pelaku jika penyelidikan membuktikan adanya pelanggaran.

Pemerhati pendidikan menilai bahwa jika dugaan kekerasan ini benar, maka tindakan tersebut merupakan perbuatan yang tidak dapat ditoleransi, terlebih mengingat insiden kekerasan terhadap siswa di sekolah bukan pertama kali terjadi.

Kepala Sekolah Dinilai Lalai dalam Penegakan Disiplin

Sejumlah warga dan pemerhati pendidikan juga menyoroti peran kepala sekolah, yang dinilai kurang tegas dalam menegakkan disiplin terhadap guru-guru di lingkungan sekolah.

Menurut informasi dari warga, insiden kekerasan terhadap siswa di SMP Negeri 3 Somambawa pernah terjadi beberapa bulan sebelumnya. Kasus tersebut bahkan sempat berujung pada proses perdamaian di Polres Nias Selatan. Namun, tidak ada tindakan konkret dari pihak sekolah untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang.

Mereka menilai lemahnya kontrol dan pengawasan dari manajemen sekolah memperburuk situasi hingga akhirnya kembali menelan korban.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak sekolah belum memberikan pernyataan tegas atau penjelasan resmi meski telah dihubungi oleh awak media. Sikap bungkam tersebut semakin memperkuat kekecewaan publik, sehingga terkesan mengabaikan konfirmasi.

Warga Minta Penanganan Transparan

Warga sekitar berharap kasus ini ditangani secara transparan dan profesional, baik oleh aparat kepolisian maupun Dinas Pendidikan, sehingga keadilan bagi korban dan keluarganya dapat terwujud. Mereka menegaskan bahwa lingkungan sekolah seharusnya menjadi ruang aman bagi anak-anak, bukan tempat terjadinya intimidasi atau kekerasan.

(Faudu.bll)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama